Ma’rifatud Dien (Mengenal Dien)

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Dien yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua Dien. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS. 48:28)


A. PENGERTIAN “AD DIEN”

Makna Ad Dien الدين yang diterjemahkan Departemen Agama RI adalah AGAMA. Sedangkan agama berasal dari bahasa sansekerta (bukan bahasa Arab) yang terdiri dari dua kata A (tidak) dan Gama (kocar-kacir/kacau balau). Jadi secara bahasa, agama artinya tidak kocar-kacir, atau tidak kacau balau. Jika disatukan dengan kata Islam, memiliki arti tidak kacau balau Islam (Agama Islam), dan ini sangatlah aneh jika kita pahami seperti itu. Namun keunggulan bahasa Arab dibanding dengan bahasa lain ialah satu kata dapat memiliki makna/arti yang sangat beragam.

Dien secara lughoh adalah:

1. Ketaatan dan Ketundukan kepada hukum yang mutlak (Qs. 16:52, 40:65, 3:83)
2. Dienul Malik (Aturan/ UUD Kerajaan ) (Qs. 12:76)
3. Tanggungjawab/ Pembalasan (Qs. 1:4)

Sedangkan Dien menurut syara’ adalah:

“Ad Dien adalah apa-apa yang diisyari’atkan Allah SWT dengan taushiyah para rasul-Nya dan Dia adalah Fitrahnya yang telah menciptakan manusia dengannya untuk keselamatan mereka di dunia dan di akhirat dengan ridhanya”. Pahami Qs. 42:13, 30:30, 26:21, 49:16, 3:19

B. UNSUR-UNSUR “AD DIEN”


Unsur-unsur Ad Dien ada 3:

1. Hukum(Law), sebagai wujud kongkrit dari eksistensinya “Rububiyyah Allah” di alam semesta ini
2. Daar (Negeri)(State), sebagai wujud kongkrit dari eksistensinya “Mulkiyyah Allah” di kerajaan bumi ini
3. Jama’ah/ Ummat(People), sebagai wujud kongkrit dari eksistensinya “Uluhiyyah Allah” dengan hanya memurnikan pengabdian kepada Allah semata.

"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". (QS. 1:5)

C. KLASIFIKASI “AD DIEN”

Klasifikasi Dien terbagi menjadi 2 yakni:

1) Dienul Haq


Allah SWT. telah mensyari’atkan sejak Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad SAW hingga sampai saat ini yakni Penegakkan Dienul Islam dan Jangan Berpecah Belah.

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang dien apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. 42:13)

Dienul haq adalah Dien Allah melalui perantara rasul-rasul-Nya yang telah disempurnakan pada masa Rasulullah Muhammad Saw, sebagai Nabi-Nya yang terakhir. Dienul Haq juga disebut dienul Islam atau dienullah. Atau dengan istilah lain, dienul haq adalah dien tauhid yang diisyariatkan Allah dengan kitab-Nya untuk keselamatan manusia atas fitrah dan lingkungannya.

"... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dien-mu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi dien bagimu..." (QS. 5:3)

"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Dien yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua dien.." (QS. 1:28)


2) Dienul Bathil

Dienul bathil adalah Dien Thoghut (setan) melalui perantara pengikut-pengikut-Nya yang terdiri dari golongan jin dan manusia yang tidak mengakui atau menerima dienullah sebagai jalan hidupnya. Dien bathil disebut juga dienul kafir atau dienul jahiliyyah. Atau dengan istilah lain, dienul bathil adalah dien musyrik yang disyariatkan orang-orang kafir dengan hawa nafsu dan angan-angannya untuk merusak fitrah manusia dan keseimbangan lingkungan demi tujuan-tujuan duniawi.

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thoghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (QS. 4:60)

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab ? Mereka percaya kepada jibt dan thoghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman." (QS. 4:51)

"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan." (QS. 72:6)

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. 45:43)

Andaikata Islam dimaknakan agama, lalu mereka yang menjadikan dien bathil sebagai jalan hidupnya serta mengangkat pemimpin melalui mekanisme dien bathil, maka tidak dapat dikatakan mereka beragama Islam, meskipun mereka menjalankan ibadah yang bersifat ritual seperti sholat, puasa, dan haji. Karena para penganut dan pengikut paham dien bathil hanya mengakui eksistensi Allah sebagai Dzat yang diagungkan di langit, namun menolak pengagungan dien Allah di bumi.

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : 'Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)', serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan." (QS. 4:150-151)

Inilah wasilah (sarana/ cara) untuk bertakwa kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. 5:35)

D. SIKAP KITA TERHADAP DIENUL HAQ (ISLAM)

1. Mengizharkannya diatas yang lain (9:33, 48:28, 61:10)


“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”. (QS. 9:33)

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. 48:28)

2. Menegakkannya (QS. 42:13)

D. KAIFIYAT IQOMATUD DIEN DAN IZHARUD DIEN


Setelah memahami ma’rifatullah maka akhirnya kita telah mengetahui syari’at Allah. Unsur-unsur syari’at tersebut adalah Rububiyyah, Mulkiyyah dan Uluhiyyah.

1) Rububiyyah

Untuk mewujudkan eksistensi Rububiyyah Allah di alam semesta ini maka yang harus dilakukan adalah TABLIGH yaitu Usaha menunjukkan jalan (5:67) = سَعْيٌ لِهِدَايَةِ الصِّرَاطِ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. 5:67)

Tabligh ini bisa berupa kabar gembira (tabsyir) dan berupa peringatan (indzar). Tabsyir ini bisa melalui proses ta’lim (keilmuan), sedangkan indzar bisa melalui proses tahkim (pemberian sangsi hukum). Inilah sarana (shirot) untuk menuju petunjuk (Shirotol mustaqim) yang baik (ma’ruf), perintah Allah (amru) untuk dilaksanakan (imtitsal) melalui perbuatan (fi’lun) yang kokoh/ teguh (itsbat). Jangan sampai kita menuju Shirotol jahim yang rusak (munkar), dilarang Allah (Nahyu) dan harus menjauhinya (Ijtinabu) dengan cara meninggalkannya (tarku). Inilah yang harus senantiasa disampaikan dan aplikasikan oleh seorang MUBALLIGH.

2) Mulkiyyah

Untuk mewujudkan eksistensi Mulkiyyah Allah di kerajaan bumi ini maka yang harus ditempuh adalah JIHAD sebagai Gerakan mengamankan jalan (9:122, 8:74) = ضَرْبٌ لِحِمَايَةِ السَّبِيْلِ

“tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. 9:122)

“dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia”. (QS. 8:74)


JIHAD ini bisa berupa seruan (dakwah, 9:122) dan tempur/ perang (qital, 8:74). Dakwah ini berupa proses pemahaman Dien (tafaqqoh) yang berupa keilmuan. Sedangkan Qital berupa mobilisasi (nufur) yang berupa perbuatan yakni penggalangan kekuatan. Inilah sarana/ wadah (Sabilillah) menuju mardhotillah yang ma’ruf, perintah Allah (amru) untuk dilaksanakan (imtitsal) melalui perbuatan (fi’lun) yang kokoh/ teguh (itsbat). Jangan sampai kita menuju sabilith thoghut yang rusak (munkar), dilarang Allah (Nahyu) dan harus menjauhinya (Ijtinabu) dengan cara meninggalkannya (tarku). Inilah yang harus senantiasa disampaikan dan aplikasikan oleh seorang MUJAHID.

3) Uluhiyyah

Untuk mewujudkan eksistensi Uluhiyyah Allah sebagai satu-satunya pengabdian maka yang harus ditempuh adalah TAUHID sebagai Pengayoman untuk membina jalan (98:5) = رَاْيٌ لِبِنَايَةِ الطَّرِيْقِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”. (QS. 98:5)

Tauhid ini ditujukan kepada Ummat dan Jama’ah. Tauhid yang dimiliki ummat yakni dengan memurnikan (ikhlash) pengabdiannya hanya kepada Allah melalui pemahan keilmuan. Adapun tauhid yang dimiliki jama’ah (institusi) dengan adanya kepemimpinan (Imamah) sehingga hukum Allah (Al Quran) sebagai sumber hukum dapat diaplikasikan melalui ketetapan-ketetapan Imam. Inilah sarana menuju “jannah” (Thoriqul Jannah) yang ma’ruf, perintah Allah (amru) untuk dilaksanakan (imtitsal) melalui perbuatan (fi’lun) yang kokoh/ teguh (itsbat). Jangan sampai kita menuju Thoriqul Jahannam yang rusak (munkar), dilarang Allah (Nahyu) dan harus menjauhinya (Ijtinabu) dengan cara meninggalkannya (tarku). Inilah yang harus senantiasa disampaikan dan aplikasikan oleh seorang MUWAHHID.

Wallahu a’lam bish showab.....

0 komentar:

Posting Komentar