Tampil Cantik dan Sikap Tabarruj

thumbnail-cadangan Seorang penceramah terkenal di seantero negeri ini, dalam banyak kesempatan, berkali-kali sering berujar, “Bagaimana suami bisa betah di rumah, kalau setiap kali suami pulang, istri masih bau, pakai daster sekenanya, rambut aut-autan?”  Sontak ujaran tersebut disambut riuh rendah suara jamaah yang hadir. Penulis sendiri sesaat tersadar mengapa banyak perempuan-perempuan yang sudah bersuami bertindak serupa?
Celotehan semacam itu kenyataannya memang sering menjadi kalimat ampuh dalam menilai istri-istri yang sudah bersuami. Tetapi, yang agak sedikit mengejutkan bahwa pernyataan seperti itu keluar juga dari ustadz yang selama ini dinilai lurus pemberitaan pribadinya. Kondisi para istri yang disinggung sang ustadz rupanya cukup menjadi perhatian serius, sampai-sampai sang ustadz menekankan bahwa penting bagi setiap istri untuk tampil cantik secara maksimal. “Saya tidak habis pikir pada suami yang tidak membolehkan istrinya dandan, pergi ke salon, menicure-pedicure, creambath dan sebagainya. Padahal sepanjang untuk kepentingan keharmonisan rumahtangga dan tidak diumbar, bukankah itu sangat baik? Nggak senang bapak-bapak lihat istri cantik?” ujarnya seraya tersenyum.
Sikap berlebihan, apa pun bentuknya, tidak diperkenankan. Namun memaksimalkan diri menjadi cantik bagi seorang perempuan adalah sebuah kepatutan yang wajar.
Cara demikian, lanjut sang ustadz, bukan saja sebagai bentuk apresiasi atas hubungan suami-istri, tetapi juga upaya bagaimana mengikat hati pasangan agar tak mudah melirik perempuan lain, di samping kepercayaan diri si istri pun akan bangkit kembali seiring usianya yang bertambah.

Syukur Nikmat

Luhur budi, pintar merawat rumah, anak, dan suami, adalah hal jamak yang disorot setiap perempuan berumahtangga. Akan tetapi, dalam urusan penampilan, tak semua peduli dalam hal ini. Pasalnya mengurus rumahtangga dan keluarga sendiri pun sudah sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran sehingga meluangkan sejenak untuk kepentingan diri sendiri menjadi hal yang sulit.
Yang demikian memang tidak bisa ditampik sebab tugas kerumahtanggaan merupakan pekerjaan yang berlangsung sepanjang waktu. Sejak dari bangun pagi sampai kembali memejamkan mata, para istri tanpa henti didera kesibukan yang tak kunjung selesai. Maka dengan mampunya mereka menjalani peran sebagai ibu rumahtanga haruslah diapresiasi sama baiknya seperti suami yang bekerja di luar rumah.
Meski begitu, sangat elok bila istri pun mampu menyediakan waktu khusus bagi dirinya baik untuk memanjakan diri atau hanya sekadar refreshing. Di saat-saat seperti inilah, sebaiknya, seorang istri merawat wajah, badan serta anggota tubuh lainnya yang memang perlu perawatan khusus mengingat usia yang bertambah sudah pasti akan menggerogoti kecantikannya. Jangan sampai di saat usia sudah benar-benar tua, barulah keinginan merawat tubuh muncul alih-alih menjadi sia-sia.
Mengurus diri untuk tampil cantik pada hakikatnya adalah bentuk apresiasi syukur nikmat. Allah telah menganugerahi fisik yang sempurna kepada manusia sehingga sangat wajar bila harus dirawat, mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki. Selain cantik, tubuh pun dijamin bersih dan jauh dari penyakit. Dalam sebuah hadits disebutkan, "..Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan… " (HR. Muslim)

Tabarruj

Kekhawatiran yang kerapkali muncul saat menyoal muslimah tampil cantik adalah sikap tabarruj. Secara istilah, tabarruj adalah memperlihatkan dengan sengaja apa yang seharusnya disembunyikan. Kemudian dalam perkembangannya, tabarruj diartikan sebagai keluarnya perempuan dari kesopanan, menampakkan bagian-bagian tubuh yang vital yang mengakibatkan fitnah atau dengan sengaja memperlihatkan perhiasan-perhiasan yang dipakainya untuk umum.
Dus, untuk tampil cantik seakan-akan menjadi hal yang sulit mengingat begitu banyak muslimah yang juga khawatir akan tenggelam dalam sikap tabarruj. Misalnya saja saat mereka memakai lipstik. Secara hukum, tak ada yang salah dengannya bila ingin digunakan kaum muslimah. Sebab kedudukannya sama seperti alat-alat lainnya seperti televisi, radio dan lainnya. Namun yang dikhawatirkan adalah ‘imbas’ dari penampilan yang menarik karena lipstick, acapkali membuat kaum muslimah bersikap tabarruj. Ingin menampilkan pesona kecantikan dirinya yang selama ini tak terlihat di muka publik secara berlebihan seraya berharap mendapat pujian sedemikian rupa. Padahal tentu saja niat awal dari berpenampilan demikian adalah untuk suami dan keluarganya.
Batasan ini tidak ada yang bisa menjamin sebab semuanya terpulang pada pribadi masing-masing muslimah. Namun jika niat mengawali tampil cantik adalah untuk beribadah, seyogyanya dibarengi dengan sikap yang sejalan, bukan justru menabrak pakem atau batasan yang sudah berlaku.

Support Suami

Peran suami dalam hal menonjolkan penampilan istrinya sangat diperlukan. Sebab niat tampil cantik pun hakikatnya untuk membahagiakan suami. Suami yang merasa bahagia niscaya  tak akan pelit melimpahkan kasih sayang dan perhatiannya kepada istrinya. Karena itu, sudah sepatutnya suami mendorong istrinya untuk tampil cantik. Tentu tak hanya di waktu-waktu khusus seperti saat pergi ke walimah ‘urs atau undangan lainnya. Justru di rumah atau momen-momen saat suami dan istri berduaanlah istri semestinya berpenampilan menarik.
Namun bila istri benar-benar berada dalam situasi yang tidak siap dan malas berdandan, selain memotivasinya, segera introspeksi bahwa bisa jadi kondisi ini sebenarnya disebabkan oleh ‘ulah’ suaminya juga. Hal ini pernah dialami oleh seorang sahabat perempuan di masa Rasulullah: Ummu Darda. Kala itu, suaminya, Abu Darda, tidak peduli kepada istrinya hingga sang istripun tidak merasa harus merawat tubuh dan menjaga penampilan.
“Dari 'Aun bin Abu Juhaifah dari ayahnya berkata; Nabi saw mempersaudarakan Salman dan Abu Darda'. Suatu hari, Salman mengunjungi Abu Darda', lalu ia melihat Ummu Darda' dengan baju yang kumuh, dan ia berkata kepadanya: "Ada apa denganmu?" Dia menjawab: "Saudaramu, Abu Darda', dia tidak memperhatikan kebutuhan dunia". Kemudian Abu Darda' datang, lalu ia membuat makanan untuk Salman. Salman berkata kepada Abu Darda': "Makanlah!". Abu Darda' menjawab: "Aku sedang berpuasa". Salman berkata: "Aku tidak akan makan hingga engkau makan". Dia berkata: "Lalu Abu Darda' ikut makan". Pada malam hari Abu Darda' bangun, lalu Salman berkata: "Teruskanlah tidur". Maka ia pun tidur lalu bangun lagi, lalu Salman berkata: "Teruskanlah tidur". Maka iapun tidur lagi. Pada akhir malam, Salman berkata: "Sekarang bangunlah". Kemudian mereka berdua shalat malam". Lalu Salman berkata kepada Abu Darda': "Sesungguhnya Rabb-mu mempunyai hak atasmu, dan jiwamu mempunyai hak atasmu, dan istrimu mempunyai hak atasmu, maka berilah setiap hak kepada orang yang berhak". Kemudian Abu Darda' menemui Nabi saw lalu ia menceritakan hal itu. Maka beliau bersabda: "Salman benar". [HR. Bukhari]
Memotivasi istri untuk tampil cantik harus diiringi dengan memberi waktu khusus kepadanya dan juga sesekali memberi anggaran yang sepantasnya menurut kadar kemampuan suami. Sang istri pun sepatutnya mengapresiasi keinginan dan jerih payah suaminya tersebut.
Kesempatan untuk perawatan bagi seorang ibu rumahtangga harus dipahami pula cukup menyita waktu. Sehingga bila suami tidak turun tangan meringankan pekerjaannya, akan sangat sulit baginya untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Dan cara seperti ini sungguh ditunjukkan oleh Rasulullah kala membantu Aisyah. Dari Al-Aswad berkata, "Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi saw ketika berada di rumah. 'Aisyah pun menjawab, "Beliau selalu membantu keluarganya, jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakannya." [HR Bukhari]
Salon muslimah kini marak bertebaran. Jika memiliki waktu luang, suami bisa menyisihkan uangnya untuk kebutuhan kosmetik istri, mengantarkannya ke salon perawatan tubuh dan wajah. Atau jika tidak, di rumah pun, bersama pasangan, Anda bisa saling memanjakan tubuh dengan sejumlah peralatan yang ada. Maka rayakanlah menjadi cantik demi kemaslahatan berumahtangga.  [Berbagai sumber]

0 komentar:

Posting Komentar