KASIH sayang Mukim bersumber dari rahmat Allah Subhanahu Wata’ala. Seorang mukmin adalah sosok manusia yang berjiwa kasih sayang, karena idealismenya adalah berbudi (berakhlaq) dengan akhlaq-akhlaq Allah Subhanahu Wata’ala.
Di antara akhlaq-akhlaq ilahiyah adalah (rahmat) kasih sayang yang meliputi segala-galanya, meliputi kafir dan mukmin, orang baik dan jahat, meliputi juga dunia dan akherat.
Rasulullah dengan rasa rahmat ini memperlakukan sahabat-sahabatnya dan dalam berbagai kesempatan beliau beliau selalu menanamkan rasa kasih sayang ini (rahmat) kepada sahabat-sahabatnya.
Pada suatu hari Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) berjalan bersama para sahabatnya menelusuri perkampungan di kota perkampungan di kota Madinah. Dalam perjalanan itu Rasulullah bertemu dengan seorang wanita yang sedang menggendong dan menyusui anaknya.
Melihat itu Nabi berkata kepada para sahabatnya, "Apakah kalian mengira bahwa ibu itu sampai hati melemparkan anaknya ke api neraka? Mereka menjawab, "Tidak-tidak, tidak mungkin dia melemparkan anaknya ke api neraka". Nabi bersabda, "Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya walaupun dibandingkan dengan kasih sayang ibu kandung kepada putranya ini." (HR. Bukhari)

Nama-nama (sifat) Allah yang paling populer setelah nama (Allah) adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang artinya adalah pengasih dan penyayang. Seorang mukmin selalu memulai membaca nama ini, bismillaahirrahmaanirrahiim setiap kali membaca al-Qur'an sebab sebanyak 113 suratnya dimulai dengan kata tersebut.
Kita sendiri selalu mengulangi dua nama ini dalam shalat-shalat wajib tidak kurang dari 34 kali setiap hari. Kedua nama mulia ini, memiliki inspirasi kuat pada jiwa seorang mukmin untuk mengambil bagian dari nama-nama mulia ini.
Imam Ghazali dalam mengomentari nama-nama Allah yang mulia ini dalam kiabnya "Almaq Sadul Asma'" mengatakan "Seorang hamba yang mengambil bagian dari sifat ini adalah merahmati (menyayangi) hamba-hamba Allah yang lalai, agar sadar dan kembali pada jalan Allah dengan cara memberi nasihat, penuh kelembutan tidak dengan kekerasan, melihat pada pelaku kemaksiatan dengan pandangan kasi sayang tidak dengan pandangan yang menyakitkan, melihat pada setiap maksiat yang berlangsung di alam ini sebagai musibahnya juga. Sehingga segera berusaha untuk menghilangkannya sesuai dengan kemampuannya, sebagai rasa rahmat kepada pelaku maksiat tersebut, agar terhindar dari murka Allah Subhanahu Wata’ala. Ia tidak membiarkan seorang melarat namun membantunya sesuai dengan kemampuannya. Ia selalu memperhatikan orang miskin di lingkungannya. Mungkin dengan harta kekayaannya, jabatan atau memintakan bantuan kepada orang lain. dan jika semua itu tidak dapat ia lakukan, ia membantunya dengan berdo'a, ikut berduka cita, trenyuh dan terharu, seolah-olah ia ikut mengambil bagian dari musibah dan kebutuhannya itu.
Barangsiapa tidak merahmati, maka tidak akan dirahmati. Seorang mukmin yakin bahwa ia selalu membutuhkan rahmat (kasih sayang) Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan rahmat Allah inilah ia hidup di dunia dan berbahagia di akhirat. Namun juga berkeyakinan bahwa rahmat Allah tidak dapat digapai kecuali dengan merahmati masyarakat manusia.
Nabi bersabda, "Allah hanya merahmati pengasih dan penyayang dari hamba-hamba-Nya." Dalam hadits lain Nabi bersabda, "Barangsiapa tidak merahmati maka tidak akan dirahmati." Sabda Nabi yang lain, "Rahmatilah siapa saja atau apa saja yang ada di bumi, maka kalian akan dirahmati siapa saja yang ada di langit."
Rahmat orang Mukmin tidak terbatas pada saudar-saudara yang muslim saja -walaupun diutamakan- namun juga meluber kepada ummat manusia seluruhnya.
Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda kepada para sahabatnya, "Kalian tidaklah beriman sebelum kalian merahmati!" Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah kami saling menyayangi," mendengar itu Nabi bersabda, "Bukan kasih sayang salah seorang dari kalian kepada kawannya akan tetapi kasih sayang kepada semuanya." (HR. Turmudzi)
Memang sifat mukmin di antaranya yang disebut al-Qur'an adalah sabar dan kasih sayang.
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
“Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” [QS. al-Balad: 17]
Rahmat ini tidak hanya terbatas kepada ummat manusia tetapi juga kepada ummat-ummat lain seperti hewan-hewan. Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah mengumumkan kepada para sahabatnya seraya bersabda, "Surga dibukakan pintunya kepada pelacur yang memberi minum anjing lalu Allah mengampuninya, neraka dibukakan pintunya untuk wanita yang menahan kucing sampai mati."
Nah jika nasib orang yang menahan kucing seperti ini, maka bagaimana besarnya siksaan orang-orang yang menahan puluhan ribu anak manusia?
Pernah ada seorang datang kepada Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dan berkata, "Saya merasa rahmat (sayang) untuk menyembelih kambing ini." Maka Nabi bersabda, "Bila engkau menyayanginya maka Allah akan menyayangimu". (HR. Al-Hakim)
Suatu hari Umar melihat seorang menyeret kambing dengan memegangi kakinya untuk disembelih, maka Umar menegur seraya berkata, "Celaka kamu! tuntunlah kambing itu menuju kematian dengan baik."

Ahli sejarah meriwayatkan bahwa Umar Ibnu Ash pada saat penaklukan negeri Mesir kemahnya dihinggapi burung merpati dan bersarang di atapnya. Ketika Umar akan meninggalkan tempat itu, ia melihat burung itu masih tetap di sarangnya yang ada di atas kemah. Maka ia tidak ingin mengusiknya dengan membongkar sarangnya, sehingga akhirnya menjadi kota 'merpati'.
Ibnu Hikan menyebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz melarang menaiki kuda tanpa ada keperluan, melarang memberi tapal kuda dari besi pada telapak kaki kuda, dan melarang mengekang kuda dengan kendali yang ketat dan berat.
Karena itulah, Rasulullah  memberikan pengertian silaturrahim yang bermakna rasa kasih sayang (rahmat). Sabda beliau: "Orang yang bersilaturrahim itu bukanlah orang yang membalas kunjungan atau pemberian, akan tetapi yang dimaksud dengan orang yang bersilaturrahim adalah orang yang menyambung orang yang memutuskan hubungan denganmu."
Di antara sifat-sifat khusus orang Mukmin adalah berhati yang hidup, tanggap, lembut dan penuh kasih sayang. Dengan hati inilah dia berkomunikasi dengan masyarakat dan lingkungannya. Ia akan trenyuh melihat yang lemah, pedih melihat orang yang sedih, dan santun kepada yang miskin dan mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan.
Masalahnya, sering di antara kita memelesetkan perintah kasih & sayang dan rahmatan lil alamin untuk urusan akidah. Padahal, untuk urusan akidah dan nahi-munkar, seorang Mukmin diperintahkan tegas dan bukan lembek. 
Allah berfirman,
فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Q.s. Al-Maidah [5]:54)
Walhasil, jika Rasulullah dan Islam saja menganjurkan kita berpeliku sayang kepada binatang dan keras pada orang kafir, mengapa kita sering tidak sayang kepada sesama Muslim, hatta, meski ia seorang yang keras sekalipun?.*



 


“DEMI Allah andaikan dia berdiri sampai malam, maka aku tidak akan meninggalkannya kecuali untuk shalat.” Begitulah komitmen Umar Radhiyallahu ‘anhu untuk setia mendengarkan taushiah (nasehat) wanita renta di pinggir jalan. Padahal ketika itu Umar adalah seorang khalifah.
Kisah itu berawal ketika Umar keluar masjid bersama al-Jarud al-‘Abdi dan yang lain. Tiba-tiba ada wanita tua di jalan. Umar kemudian mengucapkan salam kepadanya. Wanita itu pun menjawab salamnya.
Dalam riwayat al-Darimi diterangkan bahwa wanita itu kemudian meminta Umar untuk berhenti. Umar pun mendekat dan menundukkan kepalanya demi mendengarkan wanita tersebut berbicara.
Selanjutnya wanita itu memberi wejangan, ”Bertakwalah engkau kepada Allah dalam mengurus rakyat. Ketahuilah, barangsiapa yang takut akan ancaman Allah maka yang jauh (hari akhirat) akan terasa dekat. Barang siapa yang takut akan kematian, maka ia akan khawatir kehilangan kesempatan.”
Para sahabat yang berdiri bersama Umar kemudian bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah menghentikan sekian banyak orang (ikut berhenti karena tidak mau mendahului umara) demi wanita renta ini?”
Umar menjawab, ”Tahukah kalian siapa dia? Dia ini adalah wanita yang didengarkan aduannya oleh Allah Ta’ala di atas tujuh lapis langit. Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah…,” hingga Umar mengucapkan kalimat pertama tadi. (Ibn ‘Abd al-Bar, al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab,II/ 91)
Siapa pun yang mengetahui kisah ini akan semakin kagum kepada Umar. Ia rela menghentikan langkahnya, lalu mendengar dengan seksama petuah wanita itu meski dalam waktu lama. Ini adalah teladan luar biasa yang tidak banyak dilakukan manusia, apalagi orang yang merasa telah menempati posisi terhormat di masyarakat.
Anggapan umum menyatakan bahwa berbicara adalah kehormatan dan mendengar adalah kehinaan, setidaknya di hadapan pembicara tadi. Padahal yang benar bukanlah demikian.
Sikap sabar dalam mendengar seperti itu semestinya menjadi akhlak setiap pribadi yang mengaku umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Pribadi yang mengidam-idamkan ukhuwah dalam iman, kesatuan, kekuatan, kedamaian, hilangnya permusuhan, dan tegaknya peradaban Islam yang agung, otomatis akan mencontoh sikap mulia tersebut.
Mengapa penting sekali membangun sikap tersebut dalam diri kita? Berikut ini alasan mendasarnya.

1. Manusia sejati harus mau mendengar dengan seksama
Rumus ini bukanlah kesimpulan manusia, tetapi kesimpulan Sang Pencipta manusia. Jika demikian, rumusan ini pasti benar, tanpa boleh diragukan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf [7]: 179)
Pada ayat ini dengan jelas Allah Ta’ala memberikan syarat untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, yakni mutlak harus menjalankan tiga fungsi tersebut yang salah satunya adalah pendengaran.
 
2. Manusia yang baik diukur dari kemauannya mendengar
Satu-satunya rumus untuk menjadi manusia yang baik adalah menaati petunjuk Sang Pencipta yang terangkum dalam wahyu-Nya. Dalam rangka itu mesti ada proses penerimaan informasi mengenai tuntunan tersebut. Tersumbatnya informasi berakibat fatal. Manusia bisa gagal menjadi baik.
Jadi, Allah Yang Maha Bijaksana tidak mungkin menutup pintu informasi tersebut bagi hamba-Nya. Inilah yang diterangkan Allah Ta’ala dalam al-Qur`an:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ
وَلَوْ عَلِمَ اللّهُ فِيهِمْ خَيْراً لَّأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعْرِضُونَ

“Sesungguhnya mahluk bergerak yang bernyawa yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar.” (Al-Anfal [8]: 22-23)
 
3. Hamba Allah pasti mau mendengar setiap ucapan baik. 
Yang paling tahu tentang ciri hamba Allah Ta’ala tidak lain adalah Allah Ta’ala sendiri. Setiap pribadi yang menginginkan diri menjadi hamba Zat Yang Maha Baik, ambisi utamanya adalah mengoleksi seluruh kebaikan tanpa mau melewatkannya.
Setiap informasi mengenai peluang kebaikan, baginya adalah temuan paling berharga. Tidak mengherankan bila Allah Ta’ala menyebutkan bahwa sikap ambisius untuk berburu kebaikan dengan menyeleksi secara seksama setiap ucapan adalah ciri pertama kepribadian para hamba-Nya.
 
4.  Manusia berakal pasti lebih banyak mendengar dari pada bicara. 
Satu ciri khas orang yang berakal dinyatakan dengan jelas pada akhir ayat 18 surat Al-Zumar [39],  yaitu lebih banyak mendengar. Tidak ada satu ayat atau Hadis pun yang menerangkan bahwa ciri manusia berakal adalah banyak bicara.
Orang yang berakal lebih banyak diam, merenung, dan berkonsentrasi mengerahkan kekuatan berpikirnya untuk menggali berbagai mutiara hikmah.
Teladan terbaik dalam hal ini tidak lain adalah Rasulullah sendiri. Jabir bin Samurah mensifati Nabi dengan mengatakan, ”Nabi lebih banyak diam dan sedikit tertawa,” (Riwayat Ahmad).  Maka pantaslah bila Allah Ta’ala memberinya keistimewaan berupa jawami’ al-kalim (kata-kata singkat tapi padat makna).
5. Mendengar adalah penghormatan besar kepada pembicara
Inilah akhlak agung yang berujung kepada tumbuhnya rasa persaudaraan, kasih sayang, dan saling menghormati. Bahkan mampu meringankan beban psikologis orang-orang yang terserang depresi, dan terkadang menghilangkannya sama sekali.
Begitu banyak alasan mengapa seorang mukmin harus aktif dan seksama mendengar. Sebaliknya, tak kurang cela bila manusia mengabaikan sikap mulia tersebut.
Kisah karamnya kapal pesiar mewah Titanic pada 14 April 1912 tidak lain bermula dari pengabaian sang kapten, Edward J. Smith untuk mendengar peringatan Frederick Fleet, petugas menara pengintai saat melihat gunung es.
 
6. Ciri utama orang tercela adalah tuli alias tidak mau mendengar. 
Allah Ta’ala, dalam al-Qur`an surat Al-Baqarah [2] ayat 171, mengumpamakan orang-orang yang menyeru kepada orang-orang kafir seperti penggembala yang memanggil binatang ternak. Binatang-binatang itu tak akan mendengar selain seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta. Mereka sama sekali tidak mengerti.
Allah Ta’ala juga memberi sifat kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`an surat al-An’am [6] ayat 39, laksana orang yang pekak, bisu, dan berada dalam gelap gulita.
Adapun orang-orang munafik, kata Allah Ta’ala dalam Surat al-Baqarah [2] ayat 17-18, seperti orang-orang yang tuli, bisu dan buta. Mereka tidak akan kembali ke jalan yang benar.Wallahu a’lam bish-shawab.*


 
 

Hidayatullah.com- Aksi “Indonesia Tanpa Liberal” yang berlangsung sejak siang hingga sore jelang maghrib tadi (9/3/2012) berakhir tanpa kericuhan. Aparat keamanan yang dikerahkan pun tampak seperti “menganggur”. Pada aksi damai yang dihadiri sekitar seribuan massa dari berbagai elemen dan organisasi Islam ini, turut pula sejumlah artis, musisi, masyarakat umum dan banyak lagi.
Sejumlah orator menyatakan bahwa unjuk rasa tersebut merupakan salah satu bentuk sikap umat Islam yang sebenarnya terhadap posisi Jaringan Islam Liberal (JIL) dan gerakan penistaan agama lainnya. Bukan sebagaimana yang digembar-gemborkan media mainstream selama ini bahwa masyarakat Indonesia mendukung keberadaan JIL. Terutama, terkait aksi “Indonesia Tanpa FPI” beberapa waktu lalu juga di Bundaran HI.
Ketua Umum FPI, Habib Rizieq Shihab yang turut berorasi di bagian selatan Patung Selamat Datang juga menganggap pemberitaan sejumlah media arus utama selama ini dianggap berat sebelah.
“Kemarin di tempat ini, ada orang-orang homo, lesbi, bencong dan (aktivis) liberal yang demo cuma lima puluh orang. Tapi semua televisi ikut meliput. Bahkan ada televisi liberal yang ikut menayangkan secara langsung, ” ujar Habib Rizieq lantang.
Pada aksi tersebut, lanjutnya, umat Islam yang hadir ada ribuan. Namun, dia menyinggung bahwa “Indonesia Tanpa Liberal” bisa saja tidak mendapat tempat secara layak di media massa utama.
“Tapi, (meski banyak) jangan mimpi masuk televisi, kenapa? Karena kita bukan bencong, karena kita bukan homo, karena kita bukan lesbi, karena kita bukan koruptor,” sambung Habib Rizieq disambut antusias massa.
Dalam aksi di bawah mendung dan gerimis itu, selain menuntut pembubaran JIL, massa juga menuntut penyelesaian sejumlah persoalan bangsa yang lain, seperti kasus korupsi yang tak kunjung tuntas, kasus penistaan agama, juga semakin bobroknya pemerintahan negara saat ini.
Berdasarkan pantauan Hidayatullah.com di lokasi aksi, massa membawa banyak spanduk bertuliskan “Tolak Kenaikan BBM”, “Indonesia Aman Tanpa Ahmadiyah”, dan sebagainya.
Saat longmarch menuju depan Istana Negara di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, lalu lintas di Jalan Raya MH. Thamrin sempat terhambat beberapa saat.*
Rep: Muh. Abdus Syakur
Red: Cholis Akbar

Cyber Sabili-Kairo. Menanggapi kondisi terkini bahwa semua akses internet di Mesir telah diblokir rezim diktator Mubarak, Google mengatakan Senin petang (31/1/2011), mereka telah menyiapkan cara untuk mengirim pesan melalui Twitter layanan microblogging yang juga bisa digunakan untuk jaringan telepon.
Google bekerja sama dengan Twitter dan SayNow, sebuah perusahaan spesialis jasa Startup Sosial Platform dan Suara Online, untuk segera membuka akses internet dan telepon secepatnya. Sehingga memungkinkan bagi siapa pun untuk tweet dengan meninggalkan pesan di salah satu dari tiga nomor telepon. 
"Kita sangat terpukau dengan apa yang terjadi di Mesir, dan memikirkan apa yang bisa kami lakukan untuk membantu orang-orang di lapangan," kata Manajer Produk Google, Abdel Karim Mardini dan pendiri SayNow, Ujjwal Singh, dalam blog mereka.
Kedua menambahkan, selama akhir pecan ini, kami datang dengan membawa ide layanan untuk “berbicara-to-tweet”, sehingga siapapun bisa tweet hanya menggunakan sambungan suara.
Mereka juga menyebutkan, mail suara bisa diakses melalui tiga nomor telepon, yakni +16504194196, +390662207294, atau +97316199855. “Dengan mengirim pesan suara melalui tiga nomor itu, kami akan langsung mengkonversi ke dalam pesan teks dan disebut sebagai tweets.
Selanjutnya pesan ini diumumkan di Twitter dengan hashtags mengindikasikan # Mesir. “Hashtags Twitter dimaksudkan sebagai istilah pencarian sehingga orang dapat lebih mudah menemukan komentar yang berhubungan dengan topik tertentu atau peristiwa,” lanjut mereka.
Selain itu, orang juga bisa menghubungi nomor yang sama untuk mendengarkan pesan atau mendengar secara online di twitter.com/speak2tweet. "Kami berharap  ini akan membantu orang-orang di Mesir tetap terhubung pada kondisi apapun yang sangat sulit," kata Singh dan Mardini. "Pikiran kami sama dengan semua orang yang ada di sana," tambah mereka.
Google untuk sementara juga menolak mengomentasi laporan bahwa salah satu direktur pemasaran di Mesir, Wael Ghonim, telah hilang sejak Jumat malam (18/1/2011).
"Kami sangat peduli pada keselamatan karyawan kami, tapi untuk melindungi privasi mereka, kami tidak mengomentari mereka secara individu," tegas Juru Bicara Raksasa Internet California di respon email untuk penyelidikan AFP ini. (Al-Jazeera/AFP/Dwi)

 Swiss yang hanya berpenduduk sekitar 7 juta orang dan dengan luas wilayah sebesar Jawa Barat, sangat terkenal sebagai negara wisata tidak hanya di Eropa namun seluruh dunia. Jika kita bepergian ke kota-kota seperti Luzern, Interlaken, Bern, Zürich dan kota-kota besar lainnya kita sering berpapasan dengan bus-bus besar. Barisan bus itu membawa wisatawan dunia berkeliling menikmati pemandangan dan objek-objek wisata.
Kita juga mengenal negeri yang indah ini sebagai tempat bermukimnya sekolah sekolah Pariwisata dan Perhotelan. Lembaga pendidikan ini menghasilkan tenaga-tenaga yang berkwalitas dan profesional untuk pengelolaan  dunia wisata. Namun, sedikit yang mengenal William Tell,  tokoh legenda swiss,  pada awal abad ke-14 dengan sifat sifat kepahlawannya yang ingin meningkatkan tarah hidup masyarakat Swiss pada waktu itu.
Keberadaan sekolah-sekolah Pariwisata dan Perhotelan itu menurut Budiman Wiriakusumah dari KBRI Bern menjadikan  Swiss sebagai negara pilihan utama mahasiswa-mahasiswa dunia untuk menimba ilmu di bidang pariwisata. Bahkan pada sekitar tahun 70 an pemerintah Swiss memberikan bantuan  dibidang pendidikan pariwisata kepada Indonesia dengan mendirikan "National Hotel and Tourism Institute" di Bandung.
Melihat potensi dunia pariwisata Indonesia yang sangat besar,  KBRI juga membantu terjalinnya kerjasama  pendidikan tingkat P to P.
IMI, University Centre, International Hotel Management Institute Switzerland,  Luzern, Swiss dan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Jakarta (STP Trisakti), pada tahun 2008, telah menandatangani MoU kerjasama dalam bentuk pertukaran mahasiswa, dimana mahasiswa STP Trisakti berkemungkinan untuk menempuh dua tahun pendidikan di STP Trisakti dan satu tahun pendidikan di IMI Luzern, yang diselingi dengan praktek kerja atau magang di salah satu hotel di Swiss selama 6 (enam) bulan. Kerjasama juga dilakukan dalam bentuk pertukaran tenaga pengajar antara STP Trisakti dengan IMI Luzern.
 Selain melakukan penandatangan MoU kerjasama dengan STP Trisakti, pada tahun 2009, IMI Luzern juga menandatangani MoU kerjasama dengan Sekolah Bisnis (Business School) Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Kerjasama dengan Sekolah Bisnis Universitas Pelita Harapan Jakarta dilakukan dalam bentuk pertukaran pelajar, dosen dan penyelenggaraan seminar, training maupun workshop bagi pelajar Sekolah Bisnis Universitas Pelita Harapan Jakarta.
 IMI Luzern juga melakukan kerjasama dengan Program MBA (Strata Dua) Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta dalam bentuk pertukaran pelajar, dimana mahasiswa Strata Dua FE, Universitas Trisakti Jakarta dapat melanjutkan studinya di IMI Luzern. IMI Luzern dalam hal ini akan mengurus ijin tinggal maupun ijin kerja bagi mahasiswa ybs, selama tinggal di Swiss.
Dan yang baru saja ditandatangani MOU (akhir tahun 2011),  IMI dengan Petra Surabaya,  dimana mahasiswa yang kuliah di Petra Surabaya dapat melanjutkan program BA nya di IMI, termasuk in-training di daerah wisata di Swiss untuk selama 5 bulan.
Diharapkan dengan kerjasama ini Indonesia dapat meningkatkan kwalitas pendidikan yang pada dapat menghasilkan tenaga-tenaga  yang siap mengelola dunia pariwisata  dan akhirnya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dunia ke Indonesia, demikian Budiman menutup keterangannya.

Cyber Sabili-Jerusalem. Seorang jurnalis Israel-Kanada percaya bahwa ia mungkin telah berhasil melacak dua paku besi yang digunakan untuk menyalibkan Yesus Kristus. Atau setidaknya, benda itu merupakan "peninggalan lama hilang".
Bersama timnya, dia tengah menyiapkan tayangan Secrets of Christianity untuk stasiun televisi  History Channel. Host dan produser Simcha Jacobovici menemukan fakta yang mengejutkannya: Pada tahun 1990, arkeolog Israel menggali sebuah gua penguburan berusia 2.000 tahun dan menemukan dua paku yang dibuat oleh orang Romawi, tetapi menyembunyikan temuan itu.
Berdasar negosiasi, akhirnya HC boleh mempublikasikan penemuan dua osuarium-kotak pemakaman batu berisi dengan tulang manusia. Dalam peti itu tertulis inskripsi "Caiaphas" dan "Joseph con of Caiaphas". Peti terakhir sekarang ditampilkan di Museum Israel di Yerusalem.
Menurut Injil, Caiaphas atau Kayafas adalah imam besar Yahudi yang menyerahkan Yesus ke Roma untuk disalibkan. "Ada konsensus ilmiah umum bahwa makam dimana paku-paku yang ditemukan kemungkinan besar milik Kayafas pada waktu itu. Sekecil apapun, tapi menemukan di dalam kubur adalah sangat langka," kata Jacobovici di luar tembok batu yang tinggi di Kota Lama, di mana Yesus menghabiskan hari terakhirnya.
Ketika Jacobovici menemukan referensi singkat soal paku dalam laporan arkeolog resmi, ia mengaku, "Rahangku serasa turun," ia mengibaratkan.
"Ini akan menjadi seolah-olah, 2.000 tahun dari sekarang, para arkeolog menemukan gua Muhammad Ali namun lupa menyebutkan sepasang sarung tangan tinju yang ditemukan di sana. Tak ada yang istimewa dari sebuah sarung tinju, tapi bila itu sarung tangan khusus yang memiliki arti penting khusus untuk petinju terkenal, akan beda artinya bukan?" katanya.
Jacobovici pernah menjadi host  program Naked Archaeologist di stasiun History International  dan bekerja sama dengan pembuat film James Cameron pada 2007 untuk membuat film dokumenter kontroversial, "The Lost Tomb of Jesus."
Dia sebelumnya pernah menanyakan pada Israel Antiquities Authority soal paku itu. "Saya diberitahu mereka telah hilang."
Kayafas, katanya, dikenal karena satu: pengadilan dan penyaliban Yesus. "Dia mungkin merasa terdorong untuk mengambil paku tersebut bersamanya ke kuburnya," kata Jacobovici.
Ada juga kepercayaan di antara beberapa orang Yahudi kuno bahwa paku dari salib yesus  memiliki kekuatan penyembuhan  dan "tiket ke alam baka".
Namun Gabriel Barkay, seorang profesor arkeologi di Bar-Ilan University, meragukan temuan itu. "Tidak ada bukti apapun bahwa mereka berasal dari makam Kayafas," katanya. "Itu dugaan semua."
Paku  digunakan untuk "berbagai tujuan," kata Barkay, "dari memperbaiki gerbang besi untuk pintu kayu dan peti mati, selain untuk penyaliban."
Ronny Reich,  arkeolog Universitas Haifa yang juga pernah meneliti Gua Kayafas, percaya gua itu "milik anggota keluarga Kayafas". Namun ia tak yakin dengan otentifikasi paku itu sebagai dari kayu penyalib Yesus. (Republika)

 Badan tertinggi Islam Malaysia mengeluarkan fatwa terbaru yang melarang perdagangan valuta asing oleh individu Muslim. Fatwa tersebut mengatakan praktik spekulasi dalam perdagangan valas melanggar hukum Islam.
Dewan Fatwa Nasional memutuskan perdagangan valas oleh "money changer" atau antara bank adalah perdagangan yang diizinkan.
Tapi, ketika itu dilakukan individu maka "menciptakan kebingungan" di antara umat, menurut sebuah laporan yang dikeluarkan Rabu oleh kantor berita negara Bernama.
Ketua dewan, Abdul Shukor Husin, memperingatkan "Ada banyak keraguan tentang jenis perdagangan tersebut (forex trading), melibatkan individu yang menggunakan internet dengan absenya kepastian hasil," lapor Bernama.
"Sebuah studi oleh komite menemukan bahwa perdagangan tersebut melibatkan spekulasi mata uang, yang bertentangan dengan hukum Islam," kata dia.
Seorang pejabat dewan menegaskan keputusan itu kepada AFP tapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Islam meletakkan kode etik yang ketat untuk bisnis yang melarang spekulasi dan riba.
Pemeluk Islam di Malaysia dipandang lebih moderat daripada di sebagian besar Muslim dunia.
Sekitar 60 persen dari 28 juta penduduknya adalah Muslim dan tetap tunduk pada hukum Islam dalam urusan sipil.
Pada 2008, Dewan Fatwa Nasional juga mengeluarkan larangan terhadap yoga bagi umat Islam yang dipandang kontroversial. Alasan ulama, yoga bisa mengikis iman mereka.
Fatwa itu sempat memicu kegemparan dari muslim moderat, yang mendorong Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi turun tangan.
PM mengatakan umat Islam bisa melakukan yoga selama tidak memiliki elemen spiritual Hindu.
Spekulasi dan riba
Menurut Dewan Fatwa Nasional Malaysia, perdagangan valas oleh money changer atau antar bank masih diperbolehkan, namun perdagangan valas individu dinilai bisa menimbulkan kekacauan pada keyakinan.
"Ada banyak perdebatan tentang itu (forex trading) dan itu melibatkan individu-individu yang menggunakan internet dengan akibat yang tidak pasti," ujar chairman Dewan Fatwa Nasional, Abdul Shukor Husin sebagaimana dikutip dari AFP, Kamis (16/2).
"Sebuah studi oleh komite menemukan bahwa perdagangan tersebut melibatkan spekulasi mata uang yang kontradiksi dengan ajaran Islam," tambahnya.
Pejabat Dewan yang dikonfirmasi lebih lanjut mengenai aturan tersebut tidak memberikan detail. Yang pasti, ajaran Islam melarang adanya spekulasi dan riba.
MUI bertahan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan tidak akan ikut-ikutan mengubah fatwa perdagangan valuta asing (valas) menjadi haram seluruhnya seperti yang dilakukan Malaysia. MUI sudah punya fatwa sendiri dan tidak akan diubah.
Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanudin, ada empat jenis transaksi valas di Indonesia, tiga diantaranya masuk kategori haram. Sementara satu lainnya masih diperbolehkan.
"Kalau Malaysia mau bikin fatwa seluruhnya haram, itu urusan mereka, karena masing-masing kan punya regulator sendiri. Kita sudah keluarkan fatwa dan tidak akan diubah," katanya ketika dihubungi detikFinance, Kamis (16/2/2012).
Ia mengatakan, empat jenis transaksi valas yang sering dilakukan di Indonesia adalah transaksi spot, forward, swap dan option. Tiga yang terakhir diharamkan oleh MUI.
Sehingga yang diperbolehkan oleh MUI adalah perdagangan valas di pasar spot saja.
Transksi spot tidak masuk kategori haram karena merupakan transaksi pembelian dan penjualan valuta asing untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari.
"Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional," ujarnya.
Sedangkan ketiga transaksi lainnya mengandung unsur spekulasi harga sehingga diharamkan oleh MUI.
Pada dasarnya, ada beberapa hal dalam transaksi valas yang diperbolehkan.
Hal-hal tersebut antara lain tidak untuk spekulasi (untung-untungan), ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan), apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh) dan apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai. (Surau.net)