Dr. Arif Zamhari: Ilmuwan yang tetap Santri


“Kalau kamu ingin besar, jangan terus di sini. Harus hijrah. Kalau hanya di kampung, tidak bisa besar.”




Di antara ilmuwan dan aktivis muda NU potensial yang aktif dalam berbagai kegiatan berbobot namun tetap berada dalam jalur para pendahulunya dan tidak tergoda dengan pemikiran liberal adalah Dr. Arif Zamhari, yang meraih gelar doktor dari The Australian National University (ANU), Canberra, Australia. Ia memegang berbagai jabatan yang diamanahkan kepadanya di berbagai lembaga keislaman dan keilmuan.

Salah satu amanah yang diembannya kini adalah menjadi direktur Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ), yang berlokasi di Jln. H. Amat, Kukusan, Beji, Depok, Jawa Barat.   Lembaga pendidikan tinggi yang hanya menerima santri yang telah hafal Al-Qur’an ini didirikan dan diasuh oleh tokoh terkemuka NU, K.H. Dr. Hasyim Muzadi, yang juga mertuanya.

Di tengah kesibukannya mengemban amanah yang mulia itu, ia juga dipercaya menjadi pengajar di berbagai perguruan tinggi. Di antaranya di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Psikologi UIN Jakarta, juga di Fakultas Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta. Juga pada Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Malang, Jawa Timur.

Dr. Arif Zamhari termasuk ilmuwan muda NU yang sering terlibat dalam kegiatan berskala internasional. Ia di antaranya pernah menjadi ketua penyelenggara pertemuan para ulama dan cendekiawan muslim dunia di Jakarta pada 19-20 Desember 2009, yang membicarakan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam. Konferensi ini membahas berbagai persoalan penting yang menyangkut umat Islam, tanpa membedakan madzab.

Penghargaan Internasional
Keseriusan dan keaktifannya dalam mengikuti berbagai kegiatan keagamaan ternyata mendapat perhatian dari dunia internasional. Pada tahun 2010 ia memperoleh penghargaan bergengsi di luar negeri, yakni diangkat sebagai Tokoh Dunia Yale 2010.
Program Tokoh Dunia Yale diselenggarakan oleh Universitas Yale, New Haven, Amerika Serikat, sebagai upaya pengembangan kepemimpinan global. Program tersebut berlangsung setiap tahun sejak 2002 dan telah mengangkat 155 tokoh dari 74 negara.

Dr. Arif Zamhari adalah salah satu dari 15 Tokoh Dunia Yale untuk tahun 2010 itu. Mereka terpilih dari 1.500 orang peserta yang diseleksi. Ia dinilai sebagai aktivis yang telah menunjang Islam moderat dan progresif. Ketua Tanfidziah PCI NU Australia dan New Zeland tahun 2007 itu juga dianggap berkomitmen menjalankan masyarakat beradab dalam menghadapi terorisme dan mendukung toleransi melalui dialog dan pendidikan.

Dr. Arif Zamhari sesungguhnya berasal dari keluarga biasa, tidak kaya dan tidak pula terlalu sederhana. Ia putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Abdurrahman dan Hj. Ummu Sulfa, yang berasal dari keluarga pedagang dan petani.

Ia, yang kini usianya belum genap 40 tahun, lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 15 Juli 1972, di Desa Tanggung Prigel, Glaga, Lamongan, daerah terpencil yang jauh dari kota.

Pendidikan awalnya dilaluinya di Madrasah Bustanul Ulum, yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Sejak Ibtidaiyah hingga Aliyah ia belajar di lembaga ini. Di waktu kecil itu, ia juga mengikuti sekolah diniyah, lembaga pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama. 

Saat mulai duduk di tingkat aliyah, lembaran baru dalam kegiatan pendidikannya pun dimulai. Di sinilah ia mulai tinggal di pondok, meskipun untuk makan ia tetap pulang ke rumah. Maklum, lokasi pondok sangat berdekatan dengan rumahnya. Tetapi setelah itu ia langsung kembali ke pondok. Jadi, pulang hanya untuk mengisi perut.

Gurunya saat di pesantren banyak, bukan hanya satu. Di antara mereka, K.H. Ahmad Hanbali, yang juga pengasuh pesantren itu, adalah seorang yang sangat memberikan pengaruh terhadap dirinya. Ia seorang yang sangat disiplin dan menginginkan santrinya berkiprah lebih jauh, tidak hanya di daerah situ. “Kalau kamu ingin besar, jangan terus di sini. Harus hijrah. Kalau hanya di kampung, tidak bisa besar.”

Kata-kata sang kiai sangat mempengaruhi dirinya. Ia benar-benar terinpirasi oleh kata-kata itu.

Maka, sejak lulus aliyah, ia tak pernah tinggal di kampung lagi. Tak lain karena ingin besar, sebagaimana pesan gurunya itu. Ia hanya pulang kampung untuk menjenguk orangtua dan silaturahim dengan saudara-saudaranya.

Setelah menyelesaikan aliyah pada tahun 1990, ia segera hijrah ke Malang untuk kuliah di Fakultas Tarbiyah Sunan Ampel Malang, yang dirampungkannya pada tahun 1995. Setelah itu ia hijrah lagi ke tempat yang baginya saat itu sangat jauh dan asing, yaitu Padang, Sumatera Barat, untuk mengikuti pendidikan pascasarjana dengan mengambil konsentrasi Pemikiran Islam, di IAIN Imam Bonjol.

Saat itu, Padang benar-benar jauh baginya, karena Jakarta saja belum pernah dimasukinya. Namun sosok yang tetap berpenampilan santri, rendah hati, dan sederhana ini cepat dapat beradaptasi, baik dengan lingkungan kuliah maupun lingkungan masyarakat tempatnya tinggal. Malah ia lebih senang bergaul dengan masyarakat setempat dibandingkan hanya membatasi diri dengan teman-teman sedaerah. "Karena itu, saya cepat bisa berbahasa Minang. Sampai sekarang pun masih lancar."

Tanpa banyak mengalami kesulitan, ia dapat menyelesaikan S-2 nya ini pada tahun 1998 dengan judul tesis Konsep Iman Menurut Imam Abu Hanifah.

Pengembaraannya dalam menimba ilmu semakin jauh ketika ia mengikuti kuliah S3-nya pada Asian Pacific College, ANU, Canberra, Australia, yang dimulainya sejak tahun 2003 dan dapat diselesaikannya pada tahun 2007. Ia menulis disertasi dengan judul Rituals of Islamic Spirituality: A Study of Majlis Dhikr Groups in East Java.

Di samping tesis dan disertasi, ia juga telah banyak menghasilkan banyak karya ilmiah, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, baik yang telah maupun yang belum dipublikasikan.

Selain itu, berbagai konferensi internasional pun telah diikutinya. Lebih dari 25 konferensi internasional, baik di Indonesia maupun di luar negeri, telah diikutinya.

Meskipun telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi dan telah pula memiliki pengalaman yang luas di dalam maupun di luar negeri, pembawaan dan penampilan Dr. Arif Zamhari tetaplah sebagaimana santri pada umumnya: rendah hati dan sederhana. Tidak pernah berpenampilan berlebihan, apalagi aneh-aneh. Apalagi ia merasa masih terus harus banyak belajar dari siapa saja yang patut diambil ilmunya.   

Ya, bertahun-tahun ia terus merantau dari satu kota ke kota lain hingga akhirnya kini “terdampar” di bilangan Depok.

Mutiara Terpendam
Amanah yang diembannya sebagai direktur STKQ adalah hal yang sangat mulia dan sangat penting, karena menyangkut kepentingan umat secara luas. Sebab di Indonesia sangat banyak penghafal Al-Qur’an, potensi yang sangat besar. Muslim yang mampu menghafal Al-Qur’an ribuan jumlahnya, yang tersebar di seluruh negeri, mulai dari yang masih kanak-kanak sampai yang sudah tua renta.

Namun demikian, potensi tersebut tak termanfaatkan secara optimal. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi lain yang belum dikembangkan, yang bermanfaat bagi masyarakat. “Mereka sebatas menghafal, belum memahami kandungan Al-Qur’an.”

Sebenarnya, kualitas dan kemampuan mereka masih bisa lebih ditingkatkan. Yakni, dari sosok yang hafal Al-Qur’an menjadi pribadi yang paham dan berakhlaq Al-Qur’an, serta mampu menjawab tantangan zaman yang semakin meningkat di tengah-tengah masyarakat. Justru itulah yang terpenting dari aktivitas para penghafal Al-Qur’an. “Tujuan kami meningkatkan dan mencetak para hafizh menjadi ulama,” jelas Arif.

Dengan demikian, hafal saja tidak cukup. Perlu ditambah dengan pemahaman. Secara sadar, mereka telah gigih dan bersungguh-sungguh menghafal al-Qur’an. Tentu semangat itu bisa diarahkan ke tingkat yang lebih tinggi. “Di STKQ Al-Hikam ini, kita hanya menerima  hafizh yang lulusan SLTA,” katanya.

Kenyataan lain yang kita temukan, kebanyakan hafizh berasal dari keluarga serba kekurangan, sehingga mereka tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

SDM yang sangat potensial ini tentu tak boleh disia-siakan. Mereka adalah anak muda, cerdas, dan shalih. Sebagaimana kita tahu, masa-masa remaja adalah masa-masa yang paling efektif untuk menanamkan ilmu dan membentuk kepribadian mereka. Harus ada yang menampung dan mengarahkan. Karena mereka adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya.

Selain itu, mereka sering kali hanya dilibatkan untuk kegiatan seremonial, seperti tujuh bulan, pindah rumah, khataman, pernikahan. K.H. Hasyim Muzadi bermaksud memoles mutiara yang terpendam ini. Atas dasar itulah, STKQ Al-Hikam ini didirikan.

Selama proses pendidikan di sini, seluruh biaya perkuliahan hingga lulus digratiskan.

Metode pembelajaran di STKQ Al-Hikam  menggabungkan tiga aspek secara bersamaan, yaitu muraja’ah (mengulang hafalan), dirasah (belajar memahami), dan tanmiyah (pengembangan, berupa kursus-kursus dengan beragam materi wawasan kebangsaan, teknologi informasi, dan kewirausahaan).

Harapannya, mereka tetap bisa menjaga hafalannya, namun juga mampu memahami dan mengaitkan Al-Qur’an dengan konteks kekinian. Setelah kembali ke masyarakat, diharapkan mereka mampu menyampaikan kandungan Al-Qur’an, sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka, baik secara sosiologis maupun secara keilmuan.

Komodifikasi Agama
Meskipun sering berkiprah di dunia internasional, Dr. Arif Zamhari juga cermat mengamati perkembangan kehidupan umat di tanah air. Di antara yang disorotinya adalah masalah tayangan televisi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kaum muslimin tentu tak ingin hanya menikmati hiburan dari tayangan-tayangan di layar kaca. Mereka juga berharap mendapatkan hal-hal yang bermanfaat, termasuk yang menyajikan materi-materi keagamaan. Sayangnya, acara-acara yang bernuansa keislaman di televisi masih jauh dari harapan. Komersialisasi agama, atau agama diperjualbelikan untuk keuntungan semata, tercermin pada tayangan-tayangan televisi. “Fenomena komersialisasi agama tercermin pada tayangan-tayangan televisi seperti sinetron religius,” katanya.

Aktivis Nahdlatul Ulama ini mengakui bahwa dampak negatif secara langsung yang dirasakan masyarakat secara luas belum menonjol, namun itu tak boleh dibiarkan. Ia juga mengatakan, komersialisasi agama kemudian melebur menjadi komodifikasi agama, yakni komersialisasi Islam atau mengubah keimanan dan simbol-simbolnya menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mendapat keuntungan.

Dalam tayangan pada media elektronik saat bulan puasa, misalnya, nilai keberagamaannya kurang begitu mendalam.

Masalah keteladanan juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikannya. Ia mengingatkan, dalam konsep pendidikan Islam seorang pengajar juga harus menjadi teladan yang baik. Padahal masyarakat luas mengetahui bagaimana kehidupan seorang artis dalam kesehariannya. ”Para pemian sinetron tersebut sebaiknya juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.”

Tayangan acara di televisi menjelang berbuka puasa atau sahur, menurutnya, juga hanya bersifat hura-hura. Kalau ini dibiarkan, bisa terjadi degradasi keluhuran nilai-nilai agama. 

Dr. Arif juga mengingatkan hal yang sangat mendasar, yaitu penguasaan dan pemahaman orang yang menyampaikan materi-materi keagamaan. Dalam penyampaian materi-materi agama, seperti ceramah agama, perlu ada kualifikasi dari lembaga khusus dai, karena tidak sedikit orang yang kurang paham agama Islam sudah memberikan materi di hadapan publik, dan ini seharusnya tidak terjadi. Menurutnya, mereka itu kurang credible, dan harus ada proses kualifikasi dari lembaga khusus yang menanganinya. “Mereka tentunya dijadikan panutan umat, karena itu harus benar-benar memahami agama.”

Radikalisasi masih Terjadi
Masalah penanganan teroris, yang sejak beberapa waktu yang lalu sering menyita perhatian publik, juga tak lepas dari sorotannya. “Selama ini, dalam penanganan para aksi teroris pemerintah memang telah melakukan penangkapan terhadap pelaku dan pemimpin gerakan radikal. Tapi hal itu belumlah cukup.”
Menurut Arif, dalam menjalankan program deradikalisasi harus sampai pada tingkat bawah atau akar rumput. Sehingga, benih-benih teror baru dapat teridentifikasi sejak dini. Masyarakat pun dapat berpartisipasi menghilangkan bibit terorisme.

Wakil ketua International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini mengungkapkan, aksi radikalisasi di tengah masyarakat masih terus terjadi. Ia mengaku kerap menemui penceramah yang menyampaikan kekerasan, menyudutkan kelompok lain yang tidak sesuai dengan pemahamannya.

“Kita masih banyak menemui seorang dai dalam mimbar Jum’at yang mengajarkan kekerasan dan menghujat kelompok lain.”

Arif mengatakan, ia juga masih menemukan adanya siaran radio yang setiap harinya sengaja menyiarkan ceramah menghujat dan mengkafirkan kelompok lain yang tidak sepaham dengannya. Menurutnya, keadaan tersebut justru memupuk dan menumbuhkan gerakan radikal pada masyarakat di tingkatan yang paling bawah.

Naluri Kemanusiaan
Masalah-masalah yang tampaknya sederhana tetapi menjadi kepentingan dan kebutuhan masyarakat juga tak lepas dari perhatiannya. Dan pandangannya selalu berbasiskan ajaran-ajaran agama, tak terlepas darinya. Misalnya dalam memandang masalah mudik, yang menjadi hajatan tahunan sebagian masyarakat kita.

“Meskipun dalam arus mudik terdapat sisi positif dan negatif, lebih banyak memberikan dampak yang lebih baik bagi masyarakat itu sendiri. Menurutnya, dengan mudik, dalam perspektif psikologis manusia akan kembali ke asal. Untuk itu mereka sangat memperhatikan agar bisa pulang ke kampung halaman.
Fenomena tersebut merupakan naluri kemanusiaan atau sebagai fitrah manusia. Dalam  agama Islam dikenal dengan istilah silaturahim, atau mempererat tali persaudaraan. Bahkan, upaya tersebut sangat dianjurkan, karena mengandung nilai yang sangat baik.

Dari pernikahannya dengan Hj. Yuni Arova, putri K.H. Dr. Hasyim Muzadi, ia telah dikaruniai tiga buah hati: Balya Muhammad Izzat, Takiah Aqilah Farnaz, dan Haikal Makarim. Kini ia bersama istri dan putra-putrinya ini tinggal di lingkungan Pesantren Al-Hikam II Kukusan, Beji, Depok, yang menaungi STKQ, yang dipimpinannya.    

AY

0 komentar:

Posting Komentar