KEAJAIBAN ISRA MI`RAJ (2)


MASJID-AL-HARAM
Persiapan Dan Titah Ilahiyah
Keajaiban Isra wal Mi`raj Nabi Besar Muhammad SAW merupakan kejadian Ilahiyah yang hanya bisa diterima oleh ruhani dan bersifat imaniyah. Umat islam adalah umat yang dituntut untuk mempercayai apapun yang diperbuat oleh Allah SWT terutama pada saat akal dan segala peralatan teknologi tercanggih tidak dapat membantu untuk menemukan bukti-bukti kebenaran itu, akan tetapi jika sesuatu tersebut datang berdasarkan Firman Allah SWT (Al-Quranul `Adzim), wajib bagi kaum muslimin menerima dengan penuh keyakinan akan kebenaran tersebut.

Kebenaran Ilmiah yang bersifat Rasional harus tunduk dibawah kebenaran wahyu Allah SWT, karena wahyu tersebut sangatlah agung, maka hanya manusia yang dikaruniai keagungan akal dan moral yang berhak menyampaikan dan menjelaskan wahyu Allah SWT. Dialah Nabi Agung Muhammad SAW, menyampaikan kepada kaum mu`min tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Isra wal Mi`raj. Generasi pertama yang menerima kebenaran risalah tersebut adalah para sahabat-sahabat nabi yang mulia, kemudian secara berkesinambungan transformasi antar generasi kaum muslimin berlangsung, sehingga sampailah kepada kita semua melalui para ulama yang dikaruniai keunggulan intelektual, kemuliaan akhlak serta kedalaman iman.
Dengan berbekal daya intelektual, akhlaqul karimah dan keteguhan iman, marilah kita simak penjelasan-penjelasan para ulama yang terpercaya keluasan dan kedalaman ilmunya untuk menyingkap peristiwa agung Isra wal Mi`raj nabi besar Muhammas SAW.
Al `Allamah Syeikh Abdurrahman bin Abdussalam Asshafuri Assyafi`i dalam kitabnya “NUZHATUL MAJALIS WAMUNTAKHABUL NAFAIS” menerangkan bahwa pada saat malam terjadinya Isra wal Mi`raj, Allah SWT Tuhan seru sekalian alam memberikan titah kebesaran-Nya kepada malaikat Jibril yang sangat perkasa, akan tetapi sangat tunduk pada kebesaran Allah SWT, “Wahai Jibril, bawalah panji hidayah, panji penerimaan serta Buroq dan turunlah dengan 70.000 malaikat menuju kediaman kekasih-Ku Muhammad, kemudian dengan lemah lembut berhentilah didepan pintu rumahnya. Pada malam ini engkau dan Mikail yang bertugas sebagai pemegang kendali Buroq. Wahai Mikail, bawalah panji penerimaan, turunlah bersama 70.000 malaikat menuju kekamar kekasih-Ku Muhammad, wahai Israfil dan Izrail, kerjakan seperti apa yang dilakukan Jibril dan Mikail.” Kemudian Allah SWT memberikan titah lagi kepada malaikat Jibril, “Wahai Jibril, tambahkan cahaya bagi Matahari, bulan dan semua bintang-bintang.” Dengan kesempurnaan adabnya, malaikat Jibril bertanya kepada Allah SWT, “Wahai Tuhanku, apakah gerangan hari Qiyamat akan terjadi?”, Allah SWT berfirman, “Wahai Jibril, bukan kedatangan hari Qiyamat yang akan terjadi, akan tetapi malam ini akan Ku perlihatkan suatu rahasia kepada kekasih-Ku Muhammad”. Malaikat jibril bertanya kembali, “Apakah rahasia itu wahai Tuhanku?,” Allah berfirman, “Wahai Jibril, rahasia Penguasa tidaklah pantas diketahui oleh para budak, maka segeralah turun dan ketuklah pintu rumah kekasih-Ku Muhammad pelan-pelan, sebagai mana ketukan para pelayan pada pintu rumah tuannya.
Setelah malaikat Jibril mengetuk pintu rumah Rasulullah SAW dengan sikap penuh penghormatan dan pemuliaan, malaikat Jibril menyapa Rasulullah SAW, “Wahai orang yang sedang tidur? wahai kekasih Allah, sesungguhnya semua kekayaan telah disediakan, wahai anak yatim Abu Thalib, semua yang engkau cari telah disiapkan, maka bangunlah, malam ini kedaulatan adalah milikmu, engkau adalah matahrinya kema`rifatan, bulannya kerahmatan dan engkau adalah penyelamat orang-orang ketakutan dihari Qiyamat, tidak diciptakan Surga kecuali hanyalah untukmu dan tiada gelas-gelas minuman kecintaan melainkan untuk penghantar menuju engkau, bangunlah..sesungguhnya semua bingkisan indah telah disediakan dan hari-hari perjumpaanmu telah direntangkan.”
Rasulullah SAW bertanya kepada malaikat Jibril, “Wahai Jibril, apakah engkau datang membawa ayat rahmat ataukah ayat adzab?, malaikat Jibril menjawab, “Tidak ya Rasulullah, sesungguhnya Tuhanmu memberikan salam kepadamu dan mengundangmu kehadirat-Nya.
“Ya Jibril..Allah mengundangku? Maka apa yang Allah akan perbuat padaku?,”
“Ya Rasulullah, Allah akan mengampuni semua dosamu yang telah lewat dan yang akan datang,”
“Wahai Jibril, itu untukku..tetapi apakah yang diperbuat untuk keluargaku”,
Malaikat Jibril membacakan firman Allah SWT:Surat Adduha-5

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.
“Baiklah wahai Jibril, tetapi tunggulah hingga aku berwudlu”,
“Ya Rasulullah, saya datang dengan membawa air salsabil, dan semua pakaian kebesaran serta Imamah dari cahaya yang bertuliskan Muhammadurrasulullah, Muhammad Habibullah dan Muhammad Khalilullah”.
Malaikat Ridwan penjaga surga turun membawa Imamah di ikuti oleh 40.000 malaikat yang telah lama bershalawat untuk pemilik Imamah tersebut sejak Allah belum menciptakan langit dan bumi. Para malaikat tersebut mohon izin kepada malaikat Ridwan untuk memandang wajah mulia pemilik Imamah dan malaikat Ridwanpun mengizinkan. Setelah Rasul SAW menyelesaikan wudlunya, maka malaikat Jibril menyerahkan air bekas wudlunya kepada malaikat Mikail, kemudian Allah SWT memberikan perintah kepada malaikat Mikail agar air tersebut dibawa ke Surga Firdaus dan menyuruh para bidadari untuk membasuh mukanya dan jadilah mereka bertambah kecantikannya karena cahaya Rasulullah SAW.
Dengan berkendaraan Buraq dan pengawalan malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, berangkatlah Rasulullah SAW memenuhi panggilan Ilahi, panggilan Allah SWT Tuhan Semesta Alam.
Subhanallaah..walhamdulillaah..walaailaahaillallaahu Allahu Akbar..
Sungguh..begitu agung dan mulianya engkau, ya Rasulullah SAW..
Allahumma Shalli `Ala Sayyidina Muhammad wa`ala Alih Wa Ashabih..
Wallahu A`lam…
Bersambung..

0 komentar:

Posting Komentar