T.G.H. Syamsul Hadi: Mempererat Hubungan Pesantren dan Masyarakat


Kuncinya, lakukan secara perlahan dan terus bersabar.



Jika mengunjungi Lombok, Nusa Tenggara Barat, mungkin Anda akan merasa takjub pada nuansa Islam di sana, yang begitu kental. Hampir setiap jengkal tanah pulau yang diapit Pulau Bali dan Nusa Tenggara Timur ini berdiri masjid maupun mushalla. Ya, sebagian besar masyarakat Lombok adalah pemeluk agama Islam yang menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan taat.
Kecintaan masyarakat Lombok kepada Islam tak hanya terlihat pada banyaknya masjid, tetapi juga pada pondok pesantren, yang juga tumbuh secara pesat di daerah ini. Pondok Pesantren Nurus Shobah adalah salah satunya. Pondok pesantren yang berdomisili di daerah Praya, Lombok Tengah, NTB, ini merupakan salah satu ponpes yang sudah cukup lama berdiri, yaitu sejak tahun 1942, beberapa tahun sebelum Indonesia meraih kemerdekaan.

Lombok, Jakarta, Mesir
Kini Pondok Pesantren Nurus Shobah dipimpin oleh Tuan Guru H. Syamsul Hadi. Pria kelahiran 30 Mei 1965 ini adalah cucu pendiri pondok pesantren tersebut, Tuan Guru Muhammad Sholeh.
Sebelum dipercaya mengasuh pesantren ini, T.G.H. Syamsul Hadi telah berbekal pendidikan keagamaan yang matang.
Sejak masa pendidikannya di ibtidaiyah hingga tsanawiyah, ia menimba ilmu agama di pondok pesantren yang kini dipimpinnya itu. Beranjak ke tingkat aliyah, kedua orangtuanya mengirimnya ke Jakarta, untuk mengenyam pendidikan di Perguruan Islam Asy-syafi’iyyah, pimpinan K.H. Abdullah Syafi’i.
Masa sekolah aliyah tersebut ia habiskan selama lima tahun, sejak tahun 1980 hingga 1985. Dengan berbekal pendidikan tersebut, T.G.H. Syamsul Hadi pun melanjutkan pendidikan kesarjanaanya ke Timur Tengah, tepatnya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Di sana, ia mengambil jurusan Dirasah Islamiyyah.
Adanya perbedaan sistem pendidikan antara Mesir dan Indonesia membuatnya harus memasuki kelas aliyah lagi di Mesir, sebagai penyesuaian kurikulum pendidikan baginya. T.G.H. Syamsul Hadi kemudian menyelesaikan pendidikan sarjananya tersebut dalam waktu sepuluh tahun.
Setelah malang melintang di negeri orang, ia pun pulang ke kampung halamannya.

Mempersatukan Ulama
Saat kembali ke kampung halaman, ia mulai mengamalkan ilmu-ilmu yang telah didapatkannya, baik ketika di Jakarta maupun di Timur Tengah. Lebih khusus, hal itu ia lakukan untuk mengembangkan pondok pesantren yang telah dirintis kakeknya.
Sepeninggal kakeknya, ia dilimpahi amanah untuk memimpin Pondok Pesantren Nurus Shobah. T.G.H. Syamsul Hadi pun tetap berpegang pada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan kakeknya yang sudah mentradisi, seperti membuka majelis pengajian umum bagi orang tua maupun anak-anak. Pada majelis tersebut, ia mengajar ilmu faraid, akhlaq, tafsir, falak, dan ‘arudh.
Di antara berbagai disiplin ilmu agama yang ia ajarkan, ia sangat menekankan ilmu fiqih, sebagai basis pengetahuan agama untuk masyarakat maupun para santri. Hal ini ia terapkan bagi para santrinya yang kini berjumlah sekitar dua ribu orang.
Ia juga menekankan kepada para santrinya untuk menghafal, baik hafalan Al-Qur’an maupun pelajaran agama yang mereka dapat, sebagaimana ia dapatkan hal serupa dari K.H. Saifuddin Amsir, salah seorang gurunya ketika belajar di Asy-Syafi’iyyah.
Tak hanya itu, mereka yang nyantri juga dibekali pengetahuan aplikatif, seperti bercocok tanam dan memelihara kambing. Harapannya, para santrinya kelak bisa bermanfaat bagi masyarakat, baik ruhani maupun jasmani, di daerahnya masing-masing.
Dalam membina santri yang terbilang banyak itu, T.G.H. Syamsul Hadi selalu berpegang teguh pada nilai-nilai yang ia dapatkan dari kakeknya, T.G.H. Muhammad Sholeh.
Dari sang kakek, ia belajar untuk menjadi orang yang rendah hati, berbaur dengan masyarakat, dan tidak pernah menampakkan kekiaiannya kepada orang lain. Teringat betul olehnya bagaimana sang kakek mengajarkan agar ia tetap tekun dan bersabar, khususnya dalam berdakwah. “Tak pernah sekalipun kakek saya melewatkan undangan berdakwah, meskipun jaraknya sangat jauh dari kediamannya,” ujar T.G.H. Syamsul Hadi.
Di samping kebijakan dalam kurikulum pesantren, T.G.H. Syamsul Hadi juga mencoba menerapkan apa yang telah ia dapatkan dari pengalamannya bersekolah di luar Lombok. Disiplin adalah salah satunya.
Tak hanya dari sang kakek, T.G.H. Syamsul Hadi juga mendapat banyak inspirasi dari guru yang amat ia cintai, K.H. Abdullah Syafi’ie, gurunya saat di Asy-Syafi'iyyah. Sosok K.H. Abdullah Syafi’i, yang juga dikenal sebagai tokoh pemersatu kiai, menjadi inspirasi tersendiri baginya untuk meneladani jejak langkah yang mulia itu, menjadi pemersatu, seperti halnya yang sudah mulai dilakukan T.G.K.H. Zainul Majdi, seorang tuan guru muda di Lombok yang juga gubernur NTB. T.G.H. Syamsul Hadi sangat mendukung dan berperan aktif dalam merealisasikannya.
Selain berperan aktif dalam upaya mempersatukan kiai-kiai di wilayah Lombok, saat ini ia juga aktif sebagai salah seorang anggota Dewan Syura PCNU Lombok Tengah.
Banyaknya aktivitas yang dijalani tak membuat T.G.H. Syamsul Hadi merasa terbebani. Termasuk dalam hal mengembangkan pesantrennya, yang menurutnya bukan hal mudah. Ia terus berupaya menjalaninya, meski secara perlahan.
Kiat mengerjakan secara perlahan ini juga ia terapkan dalam menangani berbagai amanah yang ia emban. Baginya, tak perlu ada sesuatu yang dipaksakan. Biarkan mengalir secara perlahan, dan teruslah bersabar.
Termasuk dalam membangun infrastruktur ponpesnya, ia berusaha untuk tak meminta kepada masyarakat setempat. Dalam hal ini ia kembali mengambil contoh K.H. Abdullah Syafi’ie, yang dalam mengajak orang lain untuk turut berpartisipasi dalam hal kebaikan lebih senang menggunakan metode bercerita. Mendengar cerita Kiai Abdullah Syafi’ie, hati orang-orang pun tersentuh, sampai akhirnya kemudian turut membantu. Ia sendiri merasakan, tanpa membuat proposal ini-itu, pembangunan Ponpes Nurus Shobah berjalan lancar, terutama karena bantuan masyarakat secara suka rela.

Menggembala Kambing
Saat ini, T.G.H. Syamsul Hadi juga menjadi ketua asosiasi pedagang kambing di NTB. Terkait dengan aktivitasnya itu, menurutnya, pondok pesantren idealnya memiliki sumber dana secara mandiri. Untuk itu, ia mengupayakannya lewat bidang peternakan kambing.
Pilihannya dalam bidang ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, para nabi, sejak zaman Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad AS, sebagaimana diceritakan dalam sejarah, aktif menggembala kambing. Hal ini sangat istimewa. Menurutnya lagi, memelihara kambing tak butuh dana besar, dan kambing cepat berkembang biak.
Demikianlah upaya T.G.H. Syamsul Hadi dalam melestarikan dan mengembangkan pesantren. Ia berharap, dengan keberadaan pesantren, akan terlahir banyak guru agama yang akan turut berperan dalam pengembangan kehidupan masyarakat ke depan.
Di sela-sela kegiatannya, suami Ustadzah Hj. Rohaniyah ini juga duduk dalam jajaran anggota Dewan Pertimbangan Anggaran (DPA) pada berbagai kegiatan Gubernur NTB.
Dengan berbagai aktivitas yang digelutinya, T.G.H. Syamsul Hadi berharap, masyarakat dapat semakin dekat dengan pesantren. Ia yakin, pada gilirannya itu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat, sebab pesantren memiliki kekuatan dalam menciptakan kesabaran, nilai-nilai silaturahim, hingga menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Rabiah al-Adawiyah

0 komentar:

Posting Komentar