Subhanallah, Kakek 160 Tahun Rajin Baca Al Quran Tanpa Kaca Mata

 

Subhanallah, itulah kata yang tepat  ketika bertemu Muin. Bagaimana tidak, di usia yang sudah menginjak 160 tahun, Muin masih piawai membaca ayat suci Al quran tanpa menggunakan kacamata setiap usai menunaikan ibadah salat lima waktu. Bahkan, pria berusia uzur ini juga masih sanggup mencangkul empat jam dalam sehari.

Lelaki kelahiran Rangkasbitung, Banten, tahun 1850 ini, dikenal sebagai sosok yang suka humor. Aki Muin, biasa ia dipanggil, menuturkan bahwa hidup itu indah kalau sehat, kalau sakit jadi tidak indah, namun ada hikmah yang tetap harus disyukuri.
“Saya makan seperti “kambing” alias makan sayuran dari hasil berkebun saja, tidak pernah membeli. Dan makanan yang berasal dari makhluk hidup seperti daging atau telur saya hindari. Barangkali itu yang membuat mata masih awas untuk membaca Al Quran setelah kegiatan salat wajib,” ujarnya, di Blambanganumpu, Waykanan, Lampung, Jumat (8/10/2010).
Ia mengatakan, dalam mengolah komoditas perkebunan dan pertanian miliknya seperti kopi, terong, kacang panjang, cabai dan padi, sama sekali dia tidak menggunakan pupuk kimia.
“Saya tidak pernah menggunakan pupuk kimia, memanfaatkan yang alami saja, seperti daun atau jerami padi. Saya biasa mulai ke kebun jam 6 pagi, dan biasa mencangkul sekitar 4 jam dalam sehari, maklum sudah ‘kolot’ jadi banyak lelahnya,” katanya seraya memamerkan giginya yang sudah habis.
Ia juga mengaku, tahun 2008 lalu, dia bahkan masih sanggup memanjat pohon aren setinggi kurang lebih 10 meter yang dimilikinya untuk menyadap nira. “Sebelum jatuh dua tahun lalu, saya masih sanggup memanjat pohon aren, tapi sekarang tidak bisa lagi, punggung saya sudah patah, jadi bengkok seperti ini,” katanya.
Terkait sejarah penjajahan Belanda dan Jepang ia mengatakan, hidup di zaman pendudukan negeri Sakura lebih sulit dibandingkan saat tentara Negeri Kincir Angin menguasai Indonesia. “Zaman Jepang pakaian itu susah, saya saja menggunakan kulit dari pohon benda sebagai penutup aurat, seperti sarung atau kebaya, namun lumayan hangat. Tapi saat zaman penjajahan Belanda lumayan mudah, harga rokok 3 sen dapat 20 batang,” ujarnya.
Aki Muin ternyata pernah ikut menjadi tentara sukarela dan digaji 25 perak setiap bulan, namun setelah perang kemerdekaan ia memilih menjadi orang biasa karena ingin bebas.
[via-islam/mt]

0 komentar:

Posting Komentar